Ketulusan atau kah Keterpaksaan ?
Ketulusan ataukah Keterpaksaan
Setiap orang pasti memdambakan cinta yang tulus dari orang yg kita cintai.
Tapi bagaimana jika kita mendapatkan cinta yang tulus dari orang yg tidak kita cintai??
Mana yang akan kita pilih????
Mungkin bagi sebagian orang hidup dalam sebuah mahligai pernikahan haruslah dengan orang yang saling mencintai satu sama lain, tapi apakah itu menjamin bahwa kelak kita akan hidup bahagia selamanya, sampai ajal memisahkan, tak ada orang lain selain pasangan kita, tidak tergoda dengan pesona orang lain.
Ada sebuah cerita cinta layaknya seperti cerita di dongeng.
Cerita cinta antara seorang Mantan presiden kita yaitu BJ Habibie dengan isrinya Bu Ainun, beliau sangat mencintai istriny melebihi apapun, sampai maut yang memisahkan mereka, meski mereka telah berpisah, tapi hati beliau hanya ada Bu Ainun, istriny. Bagi yang telah membaca novel biagrafi beliau bahwa kehidupan rumah tangga mereka menjadi impian setiap pasangan yang telah menikah atau pasangan yang akan menikah, mencintai sampai ajal yang memisahkan. Kesuksesan beliau bukanlah sesuatu yang instant, tapi beliau juga pernah mengalami masa2 sulit, masa dimana keterbatasan materi pernah mereka alami, kehidupan mereka di jerman pada awalny jauh seperti yang kita lihat sekarang, tapi keterbatasan itu tidak menjadi media atau alasan mereka untuk berpisah.
Mencintai dan menerima pasangan kita dengan ikhlas mungkin menjadi pondasi keutuhan rumah tangga beliau.
Tapi bagaimana seandainy kita dijodohkan. Kita harus menikah dengan orang pilihan orang tua yang mungkin belum pernah kita kenal atau kondisi dimana seseorang yang kita kenalkan ke orang tua tidak disetujui dan orang tua tetap memaksakan pilihannya. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua tentuny pilihan yang dipilih pastilah menikah dengan pilihan orang tua.
Menjalani hidup berumah tangga yang pada awalny dengan keterpaksaan, yang mungkin dengan berjalanny waktu akan tumbuh rasa cinta, rasa ingin memiliki karena merasakan betapa baikny dy, betapa dy sabar menghadapi keluh kesah kita. Tapi bagaimana jika tidak????, bagaimana seandainy perasaan bahwa pernikahan ini hanya untuk menyenangkan hati orang tua, karena ingin patuh kepada orang tua?? Pelayanan kita, kepatuhan kita, kepada pasangan masih ada rasa keterpaksaan, belum bisa sepenuh hati. Haruskah perpisahan bisa menjadi alternative untuk mencari ketenangan jiwa??? Haruskah bertahan walau dengan setengah hati?? Salahkah jika tidak bisa tumbuh rasa cinta dalam sebuah pernikahan??




